Setiap tanggal 22 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional dengan penuh semangat. Spanduk, upacara, dan doa bersama digelar di berbagai tempat.
Namun, di balik gegap gempita peringatan itu, tak banyak yang tahu siapa sebenarnya sosok yang pertama kali mengusulkan adanya Hari Santri Nasional. Dialah KH. Agus Salim Sitompul, tokoh muda Nahdlatul Ulama asal Medan, Sumatera Utara, yang namanya jarang disebut, padahal dari dialah gagasan besar itu bermula.
KH. Agus Salim Sitompul bukan tokoh nasional yang sering muncul di layar televisi atau menjadi headline berita. Ia seorang kiai muda, pendidik, dan aktivis yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah perjuangan santri dan peran pesantren dalam kemerdekaan Indonesia.
Ia tumbuh di lingkungan pesantren, menempuh pendidikan agama di berbagai daerah, dan aktif dalam gerakan keulamaan di Sumatera. Di balik kesederhanaannya, ia memiliki pemikiran luas tentang pentingnya pengakuan negara terhadap kontribusi santri dalam sejarah bangsa.
Gagasan tentang Hari Santri ini muncul jauh sebelum ditetapkan secara resmi. Sekitar tahun 2012, KH. Agus Salim Sitompul mengusulkan agar pemerintah menetapkan satu hari khusus untuk menghormati para santri dan ulama yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Ia berpendapat bahwa para santri memiliki andil besar dalam sejarah, terutama melalui peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadrotu Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Namun, selama puluhan tahun, jasa itu belum pernah diakui secara resmi oleh negara.
Usulan itu kemudian disampaikan melalui berbagai forum, termasuk dalam acara-acara keulamaan dan diskusi kebangsaan. Ia menulis, berbicara, dan mendorong para tokoh pesantren agar bersama-sama memperjuangkan pengakuan ini.
Gagasan KH. Agus Salim Sitompul pun sampai ke telinga para pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat pusat, hingga akhirnya menjadi gerakan yang lebih luas. Dukungan datang dari berbagai kalangan pesantren, hingga pada tahun 2015 Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Sejak itu, nama KH. Agus Salim Sitompul jarang disebut dalam setiap peringatan Hari Santri. Padahal tanpa gagasan awal darinya, mungkin peringatan ini belum tentu ada.
Ia tidak menuntut pengakuan, bahkan tidak menonjolkan diri. Sikapnya mencerminkan kepribadian santri sejati—berbuat untuk bangsa tanpa pamrih.
Namun, Beberapa sumber mencatat bahwa gagasan resmi mengenai penetapan Hari Santri pertama kali datang dari KH. Thariq Darwis, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam, Malang, Jawa Timur, pada tahun 2014.
Dalam sebuah kesempatan ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke pesantrennya, KH. Thariq menyampaikan usulan agar tanggal 1 Muharram dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.
Usulan tersebut disambut positif, namun dalam proses selanjutnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengusulkan tanggal 22 Oktober sejalan dengan KH. Agus Salim Sitompul, karena bertepatan dengan peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa, yakni keluarnya Resolusi Jihad oleh Hadrotu Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
Momentum itu dinilai lebih mencerminkan semangat perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Meski sempat memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat, pemerintah akhirnya mengukuhkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.
Sejak saat itu, Hari Santri menjadi peringatan nasional yang dirayakan setiap tahun di seluruh pelosok negeri, bukan hanya sebagai penghormatan terhadap para santri, tetapi juga sebagai pengakuan atas peran besar pesantren dan ulama dalam menjaga keutuhan negeri.
Penetapan ini juga menandai babak baru dalam sejarah kebangsaan Indonesia, di mana peran spiritualis dan perjuangan moral santri mendapatkan tempat yang semestinya.
Di tengah arus zaman yang semakin cepat, Hari Santri mengingatkan generasi muda bahwa kekuatan bangsa tidak hanya dibangun dari kekayaan alam atau teknologi, tetapi juga dari ketulusan hati, semangat perjuangan, dan nilai keikhlasan yang diwariskan para santri dari masa ke masa.
Kini, sudah sepuluh tahun berlalu sejak penetapan Hari Santri Nasional. Momentum ini seharusnya juga menjadi saat untuk mengenang dan mengapresiasi mereka yang berjasa melahirkan gagasan besar di baliknya.
KH. Agus Salim Sitompul mengajarkan kepada kita bahwa ide yang lahir dari ketulusan bisa menjadi gerakan nasional yang memberi makna bagi jutaan orang.
Sejarah kadang melupakan nama-nama sederhana, tapi gagasan tulus tidak akan pernah hilang. Ia akan tetap hidup di setiap gema takbir dan lantunan doa para santri di seluruh penjuru negeri. Hari Santri bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa bangsa ini berdiri di atas perjuangan orang-orang ikhlas—seperti KH. Agus Salim Sitompul—yang berpikir jauh ke depan demi kemuliaan agama dan tanah air.
