Saditra, Masih banyak orang yang ingin membantu penyandang disabilitas netra, namun sering kali bingung bagaimana harus bersikap. Ada yang terlalu kasihan, ada pula yang canggung dan akhirnya menjaga jarak.
Padahal, yang dibutuhkan bukan belas kasihan, melainkan sikap saling menghargai dan memahami. Etika dalam berinteraksi menjadi kunci agar relasi antara penyandang disabilitas netra dan masyarakat umum terjalin secara wajar, nyaman, dan setara.
Mengenal Bukan Mengasihani
Langkah pertama dalam berinteraksi adalah mengenali bahwa penyandang disabilitas netra adalah individu yang sama seperti orang lain, dengan kepribadian, kemampuan, dan hak yang setara.
Mereka bukan sosok yang harus dikasihani, melainkan partner kita lho, dalam kehidupan sosial. Sikap kasihan yang berlebihan justru bisa menimbulkan jarak psikologis dan membuat komunikasi terasa tidak alami. Yang lebih dibutuhkan adalah pengakuan atas keberdayaan dan potensi mereka sebagai manusia utuh.
Berbicara dengan Bahasa yang Wajar
Ketika berkomunikasi, gunakan bahasa biasa seperti saat berbicara dengan siapa pun. Tidak perlu menghindari kata-kata seperti “melihat” atau “menonton” karena penyandang disabilitas netra juga menggunakan istilah itu dalam konteks keseharian.
Ucapkan salam dan perkenalkan diri dengan jelas, terutama ketika pertama kali bertemu di tempat baru. Saat berpamitan, jangan pergi diam-diam tanpa memberi tahu, karena itu bisa membuat lawan bicara merasa ditinggalkan tanpa arah.
Menawarkan Bantuan dengan Cara yang Benar
Saditra, Salah satu kesalahan yang umum adalah langsung memegang tangan atau bahu penyandang disabilitas netra tanpa izin.
Nah, Sikap seperti itu bisa dianggap mengganggu. Etika yang tepat adalah menawarkan bantuan terlebih dahulu, misalnya dengan bertanya, “Apakah saya boleh membantu Anda?” Jika mereka menerima, biarkan mereka yang memegang tangan atau siku Anda sebagai penuntun. Dengan begitu, kendali tetap ada pada mereka, dan interaksi berjalan dalam rasa saling menghormati.
Jangan Mengatur, Tapi Dampingi
Bantuan yang baik bukan berarti mengambil alih. Banyak orang yang secara tidak sadar menjadi terlalu mendominasi, seperti menarik tangan, mendorong kursi, atau bahkan memutuskan arah jalan tanpa komunikasi.
Padahal, pendampingan yang benar adalah dengan memberikan informasi verbal secara jelas, seperti “Di depan ada tangga tiga anak tangga ke bawah” atau “Pintu di sebelah kanan agak sempit.”
Tindakan kecil seperti itu membuat penyandang disabilitas netra merasa dihargai dan aman, lho, pada saat bersama dengan kita.
Menjaga Privasi dan Menghindari Rasa Ingin Tahu Berlebihan
Pertanyaan seperti “Sejak kapan tidak bisa melihat?” atau “Kenapa bisa jadi begini?” sebaiknya dihindari kecuali mereka sendiri yang membuka pembicaraan tentang hal itu.
Privasi adalah hak setiap orang, termasuk penyandang disabilitas netra. Menghormati batasan pribadi menunjukkan kedewasaan dalam berinteraksi dan menumbuhkan rasa saling percaya.
Membangun Lingkungan yang Inklusif Dengan Kolaboratif
Etika bukan hanya soal sikap individu, tetapi juga budaya bersama. Di lingkungan kerja, sekolah, atau komunitas, penting untuk menciptakan atmosfer yang inklusif.
Misalnya, memastikan informasi penting juga tersedia dalam format yang bisa diakses oleh pengguna pembaca layar, atau menyediakan tanda penunjuk dengan huruf braille di tempat umum. Setiap langkah kecil menuju aksesibilitas adalah bentuk nyata dari etika sosial yang menghormati keberagaman.
Penutup
Berinteraksi dengan penyandang disabilitas netra tidak memerlukan keahlian khusus, cukup hati yang terbuka dan kesadaran bahwa kita semua setara di hadapan kemanusiaan.
Etika yang baik tidak lahir dari teori, tetapi dari niat tulus untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Yayasan Peduli Disabilitas Netra (YPDN) percaya, ketika masyarakat mulai memahami etika ini, maka inklusivitas bukan lagi sekadar jargon, melainkan napas dalam kehidupan sosial kita sehari-hari. Dunia akan menjadi tempat yang lebih ramah ketika setiap mata, baik yang melihat maupun tidak, sama-sama belajar untuk saling memahami.
Nah, siapa yang sudah pernah berinteraksi dengan sahabat Disabilitas Netra?
