Penulis: Regina Sabila (Kepala Departemen Keagamaan Dan Pengembangan Dakwah)
Editor: Tim Redaksi YPDN
Keadilan Allah: Bukan Soal Sama, Tapi Soal Makna
Membongkar makna keadilan Allah lewat hal yang sering dianggap tidak adil—keterbatasan fisik manusia.
“Kalau Allah benar-benar Maha Adil, kenapa ada orang yang tidak bisa melihat sejak lahir? Kenapa ada yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berjalan, atau hidup dengan keterbatasan fisik lain? Apakah keadilan itu hanya untuk mereka yang sempurna?”
Pertanyaan seperti ini bukan muncul dari kekufuran, tapi dari kegelisahan yang tulus. Justru dengan bertanya, seseorang sedang membuka ruang untuk memahami lebih dalam tentang penciptaannya, tentang Tuhannya, dan tentang dirinya sendiri.
Adil Bukan Berarti Sama
Keadilan bukan berarti semua orang mendapat hal yang sama. Keadilan berarti setiap orang menerima apa yang tepat untuknya—dengan tujuan, ujian, dan kapasitas yang sudah ditetapkan Allah. Jadi, ketika seseorang tidak bisa melihat, bukan berarti Allah tidak adil. Bisa jadi, dalam keterbatasan itu justru ada kemampuan lain yang tumbuh dan berkembang.
Banyak orang yang tidak bisa melihat mampu berjalan tanpa dituntun atau menggunakan alat bantu, bekerja, mengajar, bahkan memimpin. Mereka melakukan berbagai hal yang sama seperti orang yang bisa melihat, tanpa bergantung pada penglihatan. Itu bukan keajaiban semata, tapi bagian dari keadilan dan kasih sayang Allah. Keterbatasan di satu sisi selalu disertai kekuatan di sisi lain.
Syukur Bukan Dibangun di Atas Kekurangan Orang Lain
Sering kali kita mendengar, “Alhamdulillah aku masih bisa melihat, tidak seperti mereka,” atau, “Syukurlah aku tidak seperti dia.” Kalimat seperti ini terdengar religius, tapi sebenarnya kurang sehat. Syukur sejati bukan tentang membandingkan diri dengan kekurangan orang lain. Itu bukan bentuk kekuatan, melainkan cara halus untuk merendahkan.
Syukur sejati lahir dari kesadaran akan karunia Allah dalam diri kita—bukan dari penderitaan orang lain. Kita bersyukur karena bisa berpikir, merasakan, mencintai, belajar, dan memperbaiki diri. Bukan karena merasa lebih beruntung dari orang lain.
Hindari Menghibur dengan Perbandingan yang Merendahkan
Saat seseorang merasa rendah diri karena keterbatasan fisiknya, kita sering menghibur dengan berkata, “Masih mending kamu… ada yang lebih parah.” Padahal, ini bukan bentuk penguatan. Ini justru membuat orang merasa dirinya tetap dalam posisi kekurangan—hanya saja bukan yang paling parah.
Penguatan sejati adalah saat kita mengakui bahwa orang tersebut tetap mampu, tetap bernilai, dan tetap berhak untuk bermimpi serta berdaya. Meskipun tidak bisa melihat, tapi mampu hidup mandiri, belajar, dan berkarya. Itulah yang perlu disuarakan, bukan perbandingan dengan yang “lebih kurang”.
Allah Tidak Pernah Zalim
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
“Dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fussilat: 46)
Dua ayat ini mengajarkan bahwa penciptaan manusia bukanlah hasil kebetulan, apalagi ketidakadilan. Setiap manusia diciptakan dalam bentuk terbaik menurut-Nya, dengan paket ujian dan kekuatan yang seimbang.
Menemukan Letak Keadilan
Keadilan Allah tidak selalu bisa kita lihat dari luar. Tapi bisa dirasakan dari bagaimana seseorang tetap bisa menjalani hidup meski tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Bahkan ketika dunia tidak memberi ruang, Allah tetap menanamkan jalan.
Bukan soal siapa yang bisa melihat dan siapa yang tidak. Tapi siapa yang tetap bisa melangkah, bertahan, dan menjadi diri sendiri—itulah bukti keadilan yang sesungguhnya.
